Kesehatan Purba Hingga Masuknya Agama

Kesehatan Purba Hingga Masuknya Agama

Kesehatan Purba Hingga Masuknya Agama

Menurut sejarawan, manusia purba yang hidup berpuluh ribu tahun sebelum Masehi sudah mengenali kesehatan hingga masuknya agama. Mereka mengenali langkah menyembuhkan cedera dengan urapan ( olesan ) dengan obat dari semacam daun yang ditumbuk lembut.

Baca Juga: Kesehatan Lingkungan Untuk Masa Depan

Mereka sudah mengenali langkah me-lasah ( Fisioterapi ) dan membalut tangan atau kaki seorang yang patah tulang. Selaku pembalut mereka memakai kulit kayu atau kulit binatang. Manusia purbapun sudah mengenali langkah menyembuhkan sakit di perut, batuk, pening, dan tidak sadarkan diri.

Tentang hal proses penyembuhan dan kesehatan yang mereka kerjakan hingga masuknya agama misalnya :

PIJAT MEMIJAT

Sebelumnya, penyembuhan berawal pengalaman dari seorang yang sakit pada bagian badannya. Atas dorongan gharizah ( Insting ) yang dianugerahi oleh Allah SWT padanya secara refleks orang itu memijat anggota badan yang sakit.

RAMUAN OBAT

Permulaan manusia mengenali ramuan obat untuk satu penyakit dengan coba meramunya dari daun – daunan. Bila Allah menginginkan karena itu diketemukan semacam daun penawar yang pas untuk penyakitnya itu. Dicatatlah dalam pikirannya jika daun itu untuk jadi ramuan penyembuhan.

ALAT PENDUKUNAN

Sebagian besar dukun yakin jika seluruh benda yang dia anggap ajaib memiliki kemampuan gaib atau ditempati arwah leluhur. Oleh karenanya tiap dukun memiliki azimat penangkal arwah – arwah baik selaku ajudan atau pemberi bisikan kebaikan.

Azimat itu dapat terbagi dalam bermacam tipe batu warna, tengkorak manusia , rambut, geraham, darah beku, dan lain – lain.

Ada kemungkinan jika pengetahuan penyembuhan paling tua itu ialah pijat – memijat dan peramuan alami. Sekarang ini ada banyak suku primitif di rimba – rimba Afrika yang belum terjamah seutuhnya oleh peradaban maju seperti suku Zulu, Ranzi, Bishman, Sudan rimba, Tibbu, dan Quqwa. Mereka sudah mengenali bermacam tumbuhan, akar, dan kulit, baik dari kulit pohon atau kulit hewan, selaku obat yang didapat secara turun – temurun dari leluhurnya.

Manusia Neanderthal, salah satunya genus Homo yang sudah musnah, kerap dilukiskan selaku figur kuat, kasar dan primitif. Tetapi, riset terkini berkenaan famili kita ini memperlihatkan penglihatan baru yang tidak pernah tersingkap awalnya.

Studi yang diedarkan dalam jurnal Quaternary Science Ulasans mengutarakan jika Neanderthal penuh kasih sayang untuk sesamanya. Mereka bahkan juga menjaga anggota barisan yang luka dan menolong persalinan dalam praktek perawatan kesehatan yang efisien untuk jamannya.

Sesungguhnya, telah ada bukti praktik perawatan kesehatan yang dikerjakan Neanderthal seputar 1,6 juta tahun lalu, tapi riset awalnya lebih menyaksikannya selaku contoh sikap budaya yang kompleks dan dihubungkan dengan ritus dan lambang kematian.

“Kami ketahui beberapa masalah perawatan, sama seperti yang berlangsung ke orang Shanidar dengan beberapa masalah serius. Ini memperlihatkan jika Neanderthal sanggup jaga pribadi yang sakit kronis atau terluka, bahkan juga dalam periode waktu lama,” kata Penny Spikins, periset dari University of York di Inggris.

“Kami berpikir kemungkinan lebih dari sebatas dari satu praktek budaya,” paparnya kembali.

Betul saja, riset terkini mengutarakan jika perawatan kesehatan ialah taktik bertahan hidup yang fundamental untuk Neanderthal. Tidak sekedar hanya satu praktek budaya, sikap ini benar-benar efisien dalam tingkatkan kesehatan dan kurangi resiko kematian.

Simpulan ini didapatkan sesudah beberapa periset menganalisa sisa-sisa rangka lebih dari 30 pribadi Neanderthal yang menanggung derita cedera enteng dan serius atau sembuh sesudahnya.

Beberapa beberapa luka kemungkinan sudah pulih sendirinya atau memerlukan penyembuhan simpel, seperti makanan dan istirahat. Tetapi, cedera lain seperti patah kaki akan memerlukan tingkat perawatan yang lebih berarti.

Saat itu, wanita Neanderthal beresiko alami kesusahan yang muncul dari persalinan dan memerlukan kontribusi dari pihak lain. Tiada suport ini, tingkat kematian ibu dan bayi dalam masyarakat Neanderthal kemungkinan begitu tinggi.

“Tingginya tingkat luka dan pemulihan dari keadaan serius seperti patah kaki, memperlihatkan jika seseorang harus menolong dalam perawatan mereka. Bukan hanya untuk menurunkan merasa sakit, tapi untuk keberlangsungan hidup hingga memperoleh kesehatan kembali lagi.

Neanderthal sendiri hidup dalam kelompok-kelompok kecil, jadi tiap nyawa yang raib berpengaruh besar untuk keberlangsungan hidup barisan mereka. Dalam masalah ini, menolong Neanderthal lain untuk pulih akan memberikan keuntungan barisan keseluruhannya.

Penemuan ini selanjutnya bukan hanya memperlihatkan sikap evolusioner yang berarti, dan juga berperan selanjutnya dalam memberi penglihatan baru berkenaan Neanderthal.

Beberapa orang jaman dahulu hidup pada kondisi primitif, meski begitu mereka telah memiliki sedikit pengetahuan dan kemahiran dalam menjaga atau menyembuhkan. Pekerjaan “menjaga” ditangani berdasar satu instink (perasaan) yang bisa kita masukan seperti instink binatang yang disebutkan “mother instinct” (perasaan hati keibuan) yang disebut satu perasaan alam yang bersendi pada perawatan tipe (membuat perlindungan anak, menjaga orang kurang kuat, dlsb).

Animisme berawal dari kata anima = roh, dan isme = keyakinan. Keyakinan ini apa yang ada dalam satu kemampuan religius/gaib yang bisa memengaruhi kehidupan manusia. Mereka memercayai jika arwah-arwah pada manusia yang telah wafat atau yang hidup itu masihlah ada di alam.

Beberapa orang jaman purba menyambungkan berlangsungnya penyakit dengan keyakinan animisme ini, hingga mereka berasumsi jika orang menanggung derita sakit karena bungkusukkan arwah-arwah (beberapa roh) itu. Berdasar keyakinan animisme itu munculnya seperti orang pakar dalam menyembuhkan orang sakit disebutkan dukun. Pekerjaan seorang dukun adalah untuk mengenali arwah yang masuk di pada tubuh orang yang sakit dan usaha keluarkan arwah itu dengan do’a-do’a atau mantera-mantera.

Dalam penyembuhannya dukun memerhatikan beberapa aturan selaku berikut ini: 1. Tuntunan Alam Satu tuntunan di mana alam sendiri memberi panduan-petunjuk mengenai obat yang akan digunakan seperti terserang cedera berdarah dikasih bebatan atau penutup yang memakai kain merah. 2. Tuntunan Transmigrasi Satu tuntunan yang memercayai akan kemampuan perpindahan seperti seorang wanita akan melahirkan anak karena itu awalnya diberi air minum rendaman bunga mawar.

Selanjutnya diteruskan dengan keyakinan pada dewa-dewa di mana pada periode itu mereka memandang jika penyakit dikarenakan oleh amarah dewa, hingga kuil-kuil dibangun selaku tempat penyembahan dan orang yang sakit minta kesembuhan di kuil itu. Kemudian perubahan keperawatan lagi berbeda adanya Diakones dan Philantrop, yakni satu barisan wanita tua dan janda yang menolong pendeta dalam menjaga orang sakit, semenjak itu mulai tumbuhlah pengetahuan keperawatan

Dampak Agama Masehi Nabi Isa lahir ke dunia bawa agama baru, yakni: agama Masehi (agama Nasrani, agama Kristen). Adanya agama ini, karena itu nampak ada perubahan dari pekerjaan perawatan yang bercocok keagamaan. Salah satunya tuntunan dari agama ini adalah kasih sayang pada sama-sama manusia. Dengan tuntunan ini menggerakkan pengikut-pengikut agama itu untuk lakukan pekerjaan perawatan. 2. Permulaan Rumah Sakit Sesudah agama Kristen berkembang maju dengan cepat khususnya di Roma pada jaman pemerintah Constantyn Yang Agung, karena itu oleh Constantyn dipandang seperti agama sah dikerajaan Roma. Dia membangun beberapa tempat untuk memuat beberapa orang terlantar khususnya beberapa orang yang membutuhkan bantuan dan perawatan. Beberapa tempat yang dibangun oleh Constantyn dinamakan: Xenodochein yang berarti rumah tamu.

Dampak Agama Islam Pada saat itu kerajaan Arab benar-benar berkuasa. Sesudah agama Islam berkembang dan makin bertambah besar dampaknya, makin bertambah luas penganutnya, karena itu kerajaan Arab jadi cepat dalam lapangan ilmu dan pengetahuan, misalkan pengetahuan kimia, hygiene, beberapa obat dan lain-lain. Hasil pemikiran bangsa arab saat itu khususnya mengenai ilmu dan pengetahuan beberapa obat, ketabiban dan perawatan semakin maju bila dibanding dengan beberapa negara Eropa yang saat itu sudah beragama kristen. Ini dikarenakan oleh beberapa orang kristen umumnya mengutamakan kerohanian daripada perkembangan pengetahuan, sedang agama islam mewajibkan ilmu dan pengetahuan dicari dan ditingkatkan. Bangsa arab mengartikan mengenai beberapa obat, mengenai penyembuhan dan ketabiban.